"Banyak orang yang punya pengalaman banyak tapi tak kunjung belajar, tapi ada yang mengalami pengalaman pendek dan cukup mencerahkan hidup"
demikian quote dari edensor yang saya setujui. Ga selamanya orang yang punya banyak pengalaman itu lebih dewasa dan bijaksana. Belum tentu. Jadi jangan sombong hanya karena banyak pengalaman. Orang sombong ga punya teman.
Dan besok saya akan membeli suatu pengalaman. Ya, membeli. Siapa bilang pengalaman ga bisa dibeli. Hanya kesempatan saja yang kadang jadi sangat langka.
Pengalaman kali ini ga murah, dan memang sangat langka. Saya masih belum tau apa yang saya cari. Bagaimanapun, yang paling saya cintai tetap negri kita dengan segala orang yang saya sayangi berada di dalamnya.
Mungkin pengalaman untuk berpetualang yang saya cari. hehe.
Doakan sukses ya teman-temann
sampai rumah lagi dengan sehat sentosa utuh ga kurang suatu apa.
Tidak ada kesulitan alang melintang.
Menggunakan uang sebaik mungkin.
Dan doakan semoga saya bisa membawa cerita manis dan oleh-oleh manis buat kaliaan..
Dan semoga saya bisa adaptif bersama para travelmate saya.
Saya lagi sensitif sama yang namanya uang...
arghhh...
grrr....
ya, saya ga pernah mengelola uang. Biasanya saya mengelola uang hanya dengan feeling.
Dan, kok aku boross bangett yaaaaa??????
Ga ding, sebenernya saya yang termasuk lumayan awet. Sepatu saya dari jaman klas 1 SMA,cadanganya cuma 2, satunya murahan. Sandal saya dari jaman klas 2 SMP pa ya.. mpe bentuknya ga nguwati. Klo ngaku teman saya pasti tau sandal yang saya maksud. Sama sekali ga fashionable, merek bata model bapak2. Satu lagi sandal gunung. Kadang saya ke amplas pake sandal gunung. Mencerminkan betapa ga fashionable nya saya dan malas beli baru. Nggak bgt deh ke amplas pke sandal mas-mas pecinta alam. hahaha.
Tas saya dari sarung buatan simbah saya, yang udah dipake dari jaman tante saya, nurun ke adik2nya (om saya) mpe ke tangan kakak saya. Jadi usianya udah 30 tahun an lebih. Tas yang sama sekali kere memble. Laennya tas2 jaman sekolah.
Itu aja gara-gara saya dah menahan diri untuk ga ber-boros2 ria..
hiks, tapi kok kerasanya masih shopaholic yaaaaaaaaa....
Tapi saya belinya masih reasonable kok. Misalnya beli krudung, karena saya emg lagi butuh. Beli baju panjang, karena saya emg ga punya banyak stock baju panjang. Di saat yang sama harus ganti lensa misalnya. Karena emang udah waktunya, atau beli RAM, atau beli soft case.
Yang paling parah klo minat baca lagi besar. Beli bukuuuuu.. 2 biji aja bisa mpe 70 ribu. Dalam sekejap uang segitu abisss!!!! Mungkin 1 lembar seratus ribu bisa cepat menguap.
Benar-benar tekanan batin..
Karena saya sendiri ga pernah menghasilkan uang.
Yang kerasa bisanya cuma ngabisin uang. Meskipun ngabisin uangnya juga ga semena-mena tapi kerasanya tetep aja menyiksa batin. Saya bisa nya cuma menghambur-hamburkan. Hiks.
Ohya, temen2 boleh mengkritik dan mengingatkan saya, akan sangat membangun. Trims.
Dan saya kembali berputar pada lintasan yang sama.
Mencari jejaknya dari aroma parfumnya.
Hanya karena terhembus oleh angin
sepersekian detik.
Saya melankolis. hiks. Kemudian mengganggu pikiran saya. Termasuk hal yang barusan ingin saya tulis di blog ini.
Menguap seketika.
But, I'll try!
AKhir-akhir ini, berhubung dilanda ke stress an ala mektek ataupun TMP, saya jadi sering mikir mengenai masa depan. Saya masih ga iklas dipaksa blajar mata kuliah ini itu. Suasananya bener-bener masih kaya jaman SMA. Apa ini yang namanya kuliah? Ga beda ma SMA. Apa sih yang paling penting dicari di masa kuliah seperti ini?
Pernah saya baca, klo IP bukan segalanya. Klo diranking dia masuk level tengah agak bawah. Lalu apa yang nomor 1? Jawabanya juga bukan pengalaman organisasi. Dia berada di beberapa nomor diatas IP.
Saya mencoba memahami dunia kerja sedikit-sedikit kadang-kadang. Pernah suatu ketika ada workshop di kampus saya, dengan sponsor sebuah perusahaan terkemuka dari Jepang. Ada pegawainya yang sepertinya masih muda dan terlihat sukses. Dia seperti tangan kanan perusahaan itu. Diberi beasiswa, dan bekerja di sana.
Berhubung terlihat sukses (dan lumayan), saya ajaklah si mas-mas itu kenalan. Dengan dalih wawancara padahal ya cuma mau behavioural study. Ternyata, perkiraan saya salah besar. Saya kira dia orang yang pandai berorganisasi atau berkomunikasi + emang pinter. Ternyata dia orang yang ga begitu supel ngomong. Sangat canggung waktu berbincang dengannya. Juga tidak menampakkan bahwa dia pintar organisasi. Malah pemalu klo saya bilang. Kayaknya dia tipikal mahasiswa biasa-biasa aja tapi pinter. Saya bilang, wah hebat ya bisa kerja disana. Tapi, dia tidak menyarankan saya mengikuti jejaknya. Dia yang kliatan kalem saja memberi nasehat seperti itu, klo saya yang brutal bekerja di sana, mungkin ga betah.
Satu hal yang saya pelajari, bekerja di perusahaan bagus belum tentu menyenangkan.
Kemudian saya menonton kembali video dokumentasinya. Workshop nya tentang produk desain gitu. Menarik loh.
Ohya, kan ada beberapa pembicara, yang satu emang handal di dunia produk, dua dari dosen kampus saya.
Saya ga gitu kenal mereka sih, tapi saya punya dugaan aja. Klo si pembicara yang handal itu kan emang udah terjun langsung ke dunia produk-produk plus gaul gitu. Klo dosen saya apa ya? Apa dia emang dah berpengalaman langsung menangani fenomena-fenomena produk di pasaran nyata? Saya ga kenal si, dan belum diajar beliau, tapi sempet wondering aja mbayangin klo dia lulusan luar negri, dan apakah dia up to date *scara bapak-bapak dan di jogja*? Iya ga ya??
Yah, saya masih semester 2 sih, blum kliatan banget tekin nya. Masih terlalu awam untuk menilai.
Lalu di video nya itu, ada wawnacara dengan si ibu pembicara yang oke.
Beliau bilang, bahwa jadi mahasiswa harus punya personal brand. Jadi kuliah ga semata-mata kuliah trus ke kosan, tapi juga harus mulai peka dan alert terhadapa insigt2 yang ada di sekitar kita. Jangan sampe sewaktu kita buat CV, kita bingung waktu kuliah dah ngapain aja, kita harus mulai tau kita ke arah mana dan mulai menciptakan karakter. Thats it!
Melatih sense itu perlu. Saya baru sadar klo hobi saya selama ini nonton film merupakan bagian dari mempelajari life style dan mempertajam pengamatan. *meskipun yang saya tonton dorama2. Hahaha, soalnya lebih manusiawi aja.* Atau hobi blogwalking, surfing, reading, kemudian nantinya dikait-kaitkan dengan teori yang kita dapat di kampus. (ini dari segi kuliah jurusan saya tekin)
Terkadang ini yang menurut saya masih luput di kalangan teman2 saya,
ilmu yang sebenarnya adalah ilmu yang berkembang saat ini, saat-saat dimana harga kopi mahal menjulang namun tetap saja laku, fenomena blackberry, persaingan pasar handphone soner atau nokia, blajar di balik kasus prita. Ga cuma tau secara umum. Tapi banyak yang bisa di eksplore dari sana. Ya, kita harus mulai peka.
sering-sering baca majalah, karena ilmu yang kita dapat terkadang terlalu kuno. Itu bisa dilatih dari sekarang.
Saya masih blum dapet karakter seperti ini dari teman-teman saya scara umum sih. Kuliah-rapat-pulang. Ga selamanya yang pinter itu bagus kerjanya dan bagus pemikiranya. *menghibur diri*
Tapi kk angkatan yang menang2 lomba juga banyak si. Mereka hebat! saya salut. Dan mungkin aja ternyata teman2 saya suka belajar di rumah dan saya yang telat baru nyadar sekarang dan bertekad.
Ohya, tulisan ini masih terinfluence klo temanya produk-produk. Soalnya di tekin bisa aja kerja di Bank, di kantoran, ga mesti berkaitan dengan produk si.
Dan saya masih belum ada apa-apanya. Dibandingkan orang-orang di sekitar saya.
Oh ya, sebenernya saya rada ga iklas nge blog ginian. Ga indah banget dibacanya.
Saya baru nonton dorama
Yang pemeran utamanya tampan sekali....
.....benar-benar tampan.....
......seperti wendy cagur. Haha.
komentar (4) Link ke posting ini
Label: movie
Kemarin saya berencana mengembalikan film yg saya pinjam di sapen deket rumahnya copey.
Seperti biasa ritual sebelum berangkat adalah cari-cari kunci. Gak ketemu-ketemu. Mulai teriak-teriak ke seisi rumah, diiringi backsound.
Lupa. Lupa lupa lupa, lupa lagi kuncinya.
"Kuncinya manaaaaa????" saya teriak-teriak
C A minor D minor ke G
ke C lagi A minor D minor ke G..
kata ibu, kuncinya ada di kuburan.
Pergilah saya ke rental vcd di sapen itu dengan motor ibu saya (kunci saya ada di kuburan), sampai sana masuk rentalnya. Liat-liat film lain dulu, dan akhirnya gresek-gresek tas.
VCD nya ga ada.
.........................................................................
Datang tak di undang, pergi ga permisi. Saya males ngomong ma penjaganya klo vcd nya ketinggalan.
Berharap dapet hiburan saya pergi ke pengok, mencari hiburan menyegarkan. Pinjam film disana.
Pinjem Death note 3-L change the world dan dorama. *saya ngga suka spoiler, tapi saya suka kasih gambaran. Klo ga mau berekpektasi ga usah baca yg font biru* :)
Saya sangat menikmati L-change the world ini. Di cerita ini topik nya fokus ke L aja, saat-saat sebelum dia mati waktu ngalahin Kira. Musuhnya juga bukan Kira, tapi ada konflik lain yaitu virus penyakit yang disebarkan. *Fine! Lokasi penyebaran virusnya ada di Thailand, dan saya jadi teringat flu babi*
yang saya suka di sini, sisi manusiawinya L keliatan. Saya suka ketawa geli pas nonton. Pinter dan canggihnya sudah pasti jadi santapan saat nonton dorama ini. Seru lah pokoknya. I really enjoyed it!
Selanjutnya, saya mau nnton dorama. Sampulnya mirip hanakimi. Ceritanya? Sama ga mutunya.
Tentang sekolah elite khusus perempuan dimana setiap siswanya harus didampingi 1 pelayan (yg kebanyakan masih muda dan tampan). Humornya mirip, tapi ini agak serius. haha.
Ujian saya masih senin. Tadi habis (survey) outbond seru. Saya bener-bener dah berasa liburan.
Padahal masih ada satu ujian lagi yang sangat ga enak.
Dan setelah itu akan saya sambut liburan yang sebebas-bebasnya.
Ohya, tiba-tiba ada penampakan
Kunci motor saya ada di meja belajar
komentar (8) Link ke posting ini
Label: movie
Dimulai dari suatu musim penyakit.
Flu dan pusing
memutuskan untuk tdk masuk kuliah dan titip absen.
Kemudian lupa pinjam catatan
akhirnya pinjam catatan teman di H-2 ujian
memutuskan tulisanya jelek, saya tidak mau membaca.
Saya hanya baca yang tulisanya bagus. Termasuk tulisan saya tentunya.
Kemudian hari ini saya menghadap tembok.
2 dari 3 nomer mekanika teknik berasal dari catatan yg tidak saya baca.
Berkali-kali saya hanya menyeringai. Mengangkat sebelah ujung bibir. Menatap dengan mata terbuka setengah ala komik. Atau dengan bola mata ke atas ala chiaki.
mengarang rumus
benar-benar menghadap tembok.
padahal soalnya gampang.
kemudian saya teringat judul film ratapan anak tiri
saya merasa jadi tokoh utamanya.
saya tidak goblok sebenarnya hanya saja saya malas.
dan pelupa dan tidak niat dan sombong dan sok-sokan dan suka mencari-cari alasan. Biar tidak dikira goblok tentu saja.
Dadagh Mekanika Teknik dan Matematika 2. Saya tidak merasa sukses dengan kalian.
Sungguh tidak beruntung kalian bukan bagian dari jalan kesuksesan saya..
Kecuali kalian berubah pikiran dan mau berbagi huruf alpabet A. Belum terlambat..
maka akan saya pertimbangkan...
Wahai ilmu pengetahuan.
kenapa aku tak kunjung terpesona olehmu..
padahal albert Einstein atau Paskal sudah begitu terbuai denganmu
Kenapa kamu masih begitu sulit untuk kupahami.
Kenapa aku tetap tak bisa berteman denganmu.
Kau terlalu angkuh dan jual mahal
dan aku terlalu sombong untuk menyapamu.
Saya bukan orang yang mendedikasikan diri untuk ilmu pengetahuan ilmiah. Sedangkan perspektif lingkungan menilai seseorang dari kepintaranya. Dari angka-angka yang menghiasi kolom-kolom kertas HVS tipis selembar tapi maut bernama transkrip. Kemudian dalam pikiran masing-masing mulai membuat tangga-tangga kasta. Meletakkan dimana dirinya dan seenaknya meletakkan orang lain di tangga yg entah lebih tinggi atau lebih rendah. Diperlakukan seperti itu terkadang terasa sesak. ARGGHHHH....
*di tengah mood belajar yang tak kunjung turun, perut yang melilit-lilit, dan tab blogger yang begitu banyak menghiasi layar monitor------- kemudian paragraf kedua saya dijawab dengan bijaksana oleh seorang capres, kemudian saya sedikit paham dan malu..*

